Novel Sejarah "Aku dan Surabayaku"



Aku dan Surabayaku



ABSTRAK
Kota ini memang belum sepenuhnya terbebas dari orang-orang berkulit putih. Mereka tidak mau mengakui proklamasi kemerdekaan bangsa ini. Mereka ingin menancapkan kekuasannya kembali di bumi pertiwi ini hingga membuatku dan pemuda-pemuda kota ini menjadi resah. Banyak pertempuran-pertempuran kecil terjadi di berbagai wilayah. Tak jarang, mereka juga senang membuat ulah tak senonok yang membuat muka penduduk kota ini menjadi merah. Mereka pernah mengibarkan bendera Merah Putih Biru di tiang teratas Hotel Yamatoatau Hotel Oranje disaat gerakan pengibaran Sang Merah Putih sedang berlangsung di seluruh pelosok kota.
            Datangnya tentara Inggris yang biasa disebut sekutu yang diboncengi NICA atau Netherlands  Indies Civil Administration juga memicu pertempuran di kota ini. Kedatangan mereka tak lain dan tak bukan untuk melaksanakan tugas dan menyelesaikan misi yang sudah mereka rencanakan. Satu persatu bentrokan antara pejuang dan sekutu sering terjadi dan memuncak ketika pemimpin sekutu, Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby tewas tertembak.
            Terbunuhnya  Jenderal A.W.S Mallaby menimbulkan kemarahan tentara sekutu hingga mereka mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi rakyat Surabaya sekaligus bagi Bangsa Indonesia. Tanggal 10 November 1945, sekutu mulai melancarkan serangan. Berbagai  pelosok kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk terluka dan kehilangan nyawa. Begitu pula diriku.Aku harus rela meninggalkan ibuku dan Surabayaku.
           

                       
Allahhuakbar ..Allahhuakbar... Suara adzan bersahut-sahutan di telingaku, segera ku buka kedua kelopak mataku, ku tarik kedua tanganku ke atas untuk mengumpulkan tenaga dan mengembalikan alam sadarku . Lalu ku basuh muka lusuhku dan membersihkan badanku. Selesai mandi kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat dan menuju surau dekat rumahku. Setelah sholat subuh, aku bersepeda keliling desa sekedar untuk olahraga dan menenangkan pikiranku. Semalam aku rmimpi buruk sekelompok orang datang ke kota ini dan tak lama setelah kedatangan mereka banyak darah bercecearan di berbagai tempat di kota ini. Sungguh mengerikan jika mengingat mimpiku semalam.
“Hmmmm....Semoga mimpiku semalam bukan pertanda buruk.”, gumamku dalam hati.
Suasana di desa ini masih begitu asri. Masih banyak sawah dan pepohonan di sepanjang jalan. Bangunan-bangunan tinggi juga belum banyak berdiri. Hanya ada satu dua hotel yang bisa dibilang megah dan beberapa sekolah pendirian Belanda yang berdiri di kota ini. Lima belas menitan aku keliling kampung, beberapa penduduk desa ini mulai berjalan menuju sawah dan kebun mereka masing-masing. Memang, mayoritas penduduk desa ini berprofesi sebagai petani, walau mereka sering diperalat oleh penjajah untuk menyerahkan sebagian hasil panen mereka, mereka tetap mempertahankan pekerjaan ini karena memang hanya kemampuan bercocok tanam yang mereka miliki.Setelah puas mengelilingi kampung aku kembali ke rumah dan mengerjakan aktivitasku setiap harinya. Sebelum mulai beraktivitas, biasanya aku sarapan, membaca surat kabar atau mendengar berita di radio.
Sejak kemarin, banyak sekali masalah yang tiba-tiba muncul. Hal tersebut membuat kepalaku pusing tuju keliling. Mulai dari masalah pekerjaan hingga masalah politik di negri ini. Hhhhuuuuuufffffff.... Suara hembusan rokok keluar dari mulutku.  Asap djarum super membentuk awan di depan mataku.Secangkir kopi hitam menjadi pasangan yang pas untuk menemani rokok tersebut.Ya, begitulah sarapanku tiap kali banyak persoalan yang ada di pikiranku. Aku sadar merokok hanya merugikan tubuhku namun tanpa merokok  aku tidak bisa berpikir jernih saat berbagai masalah menimpa diriku. Segera ku habiskan rokok dan kopi hitam tersebut dan menuju balai desa untuk membahas beberapa hal bersama teman-temanku. Ku ambil sepeda onthel peninggalan ayahku yang hingga kini masih layak dipakai walaupun sudah tak sebagus dulu. Ayahku adalah mantan perwira Angkatan Darat yang bertugas untuk  melindungi penduduk kota ini dari serangan para penjajah yang tak punya hati itu. Namun saat aku berusia 8 tahun, ayahku pergi meninggalkanku  menuju pangkuan Ilahi. Ayahku menjadi korban kebengisan orang-orang berkulit putih itu. Ayah adalah seseorang yang tegas dan sangat benci terhadap penjajah. Beliau pernah berkata, “Jangan sekali-kali kamu mau menjadi kacung mereka. Mereka hanya ingin mencuri apa yang kita punya untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan. Jika kamu besar nanti berusahalah untuk mengusir mereka dari negeri ini. Jangan pernah takut. Hidup atau mati itu tergantung yang di atas.”Mulai saat itu aku bermimpi ingin menjadi seseorang seperti ayah. Menjadi orang yang cinta tanah air dan rela berkorban demi bangsa dan negara.Saat ini, aku tinggal bersama wanita tegar yang sangat menyayangiku dan sabar mendidikku hingga seperti sekarang ini. Beliau adalah ibuku, matahariku dan satu-satunya keluarga yang aku punya. Setelah ayah meninggal dunia, beliau menggantikan semua tugas ayah, mejadi kepala keluargadan rela membanting tulang untuk menyekolahkanku dan menghidupi segala kebutuhanku. Disamping Ibu bekerja,ibu juga menjadi aktivis organisasi Muhammadiyah.
Berkat kerja keras ibu, aku bisa mengenyam pendidikan di MULO, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah umum di masa Hindia Belanda dan menyelesaikan sekolahku di HBS. Hingga saat ini aku menjadi seorang pemuda yang pemberani dan pantang menyerah itu semua berkat didikan ibuku.
Setelah berhasil menyelesaikan pendidikanku, sekarang aku bekerja sebagai penyiar di salah satu stasiun radio di Surabaya. Kebetulan, kepala stasiun radio tersebut adalah Bung Tomo. Beliau adalah seorang yang gagah berani, tegas dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Tempo hari, beliau menyuruhku untuk menghadiri rapat di balai desa bersama pemuda-pemuda yang lain. Aku pun mengiyakan perintah tersebut.
Tak kusangka, rapat kali ini juga dihadiri oleh Bung Soemar, ketua PRI. Pasti rapat kali ini membahas masalah yang cukup penting.
“ Selamat pagi, Bung.” , sapaku pada Bung Soemar.
“ Selamat pagi, Nak. Bagaimana kabarmu hari ini? Sehat to?”, tanya Bung Soemar.
“ Alhaamdulillah Bung sehat, hanya saja ada beberapa masalah yang menghampiriku kali ini. Dan hal tersebut sedikit mengusik pikiranku.” , jawabku.
“ Masalah apa Nak? Siapa tahu aku bisa membantu menyelesaikan urusanmu itu?”, tanyanya lagi.
“Tidak Bung. Terima kasih. Takutnya, malah menambah pekerjaan anda, Bung.”
“ Tak usah berkecil hati Nak..ceritakan saja masalahmu itu. Mudah-mudahan aku bisa menyelesaikan hal tersebut.”
“Begini Bung, sebenarnya aku ingin mengambil senjata para tentara Jepang yang ditawan itu. Tapi, aku takut jika hal tersebut menimbulkan kekacauan di kota ini. Mereka bisa saja memberontak dan melakukan serangan kepada penduduk kota ini. Di sisi lain,  kita bisa berkuasa penuh atas senjata yang mereka miliki. Bagaimana menurut anda, Bung?”, tanyaku.
“Kebetulan sekali Nak, kali ini kita memang mau menyusun rencana untuk membahas masalah pelucututan senjata para tentara Jepang. Namun, kita harus mempersiapkan hal yang diperlukan dengan matang untuk meminimalisir resiko yang di  timbulkan. Untuk itu, aku dan Bung Tomo menyuruh kalian untuk rapat di balai ini. Kita harus meminta pendapat kalian tentang pelucutan senjata tentara Jepang ini. Jika nanti kalian menyetujui rencana ini, secepatnya kita harus segera melucuti senjata mereka.”, jawab Bung Soemar
“ Kebetulan sekali Bung. Saya pastikan pemuda yang lain akan menyetujui rencana ini.”
“ Baiklah, mari mulai saja rapat hari ini. Sepertinya Bung Tomo dan pemuda yang lain sudah menunggu di dalam” kata Bung Soemar.
“ Baik Bung”
Aku dan Bung Soemar segera menuju ruang rapat. Namun, aku tak melihat batang hidung Bung Tomo. Ternyata Bung Tomo masih berada dalam perjalanan menuju balai desa. Sembari menunggu Bung Tomo, aku dan pemuda yang lain bersenda gurai sembari menunggu Bung Tomo. Sekitar 10 menitan, akhirnya Bung Tomo tiba di balai ini.
“ Assalammualaikum..”, salam Bung Tomo yang datang dengan nafas terengah-engah.
“ Walaikummussalam.”, jawab ku dan semuanya.
“ Maaf saya terlambat. Tadi ada beberapa urusan mendadak di kantor.” Kata  Bung Tomo.
“ Tidak masalah Bung. Santai saja.” , kata Bung Soemar.
“ Baiklah, langung dimulai saja rapatnya. Hari ini saya yang akan memimpin rapat ini. Rapat kali ini, kita akan membahas rencana untuk melucuti senjata tentara Jepang. Bagaimana  menurut kalian? “, tanya Bung Tomo kepada kami.
“Setuju Bung. Siapa tahu senjata tersebut bermanfaat untuk kita. Mumpung sekarang ini adalahwakuyang pas untuk melakukan operasi tersebut.” Kata Udin.
“ Bagaimana dengan yang lain?”, tanya Bung Tomo.
“ Maaf Bung, bagaimana jika setelah kita melucuti senjata tersebut Jepang memberontak dan memicu perlawanan? Bagaimana dengan nasib yang lain? Apakah Bung Bung sekalian telah memikirkan resiko yang mungkin saja bisa terjadi?”, tanya Supriyono pada Bung Tomo dan Bung Soemar.
“ Benar Bung. Saya juga takut hal tersebut terjadi. Bagaimana jika pelucutan tersebut menimbulkan peperangan dan berakhir dengan korban jiwa? Akankah lebih baik jika kita menunggu waktu yang pas untuk melakukaan pelucutan tersebut hingga situasi politik kota ini mereda?”, timpalku.
Hening...Semua terdiam, tak ada yaang merespon pertanyaanku maupun pertanyaan Supriyono, teman sebayaku. Bung Tomo dan Bung Soemar mengernyitkan dahinya masing-masing seperti memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, Supardi mengeluarkan pendapatnya.
“ Begini Bung, dua hari yang lalu saya mendengar salah satu berita di radio jika sekutu telah mendarat di Batavia. Tidak menutup kemungkinan jika sekutu akan menancapkan kekuasaannya di negeri ini. Saya memiliki firasat jika sekutu akan menduduki kota ini secepat mungkin. Oleh karena itu, saya mendukung penuh untuk melakukan pelucutan senjata itu.”, kata Supardi.
“ Benar Nak. Kemarin saya juga diberitahu oleh salah seorang redaktur majalah jika sekutu telah mendarat di Batavia dan mereka ternyata telah bersekongkol dengan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. Karena hal itu, saya dan Bung Soemar merencanakan pelucutan senjata ini untuk berjaga-jaga jika Sekutu benar benar mendarat di kota ini. Setidaknya jika mereka benar-benar datang kita telah memiliki beberapa senjata milik Jepang.” , timpal Bung Tomo.
“ Lalu bagaimana menurut yang lain? Apakah kalian setuju jika kita kan melucuti senjata tentara Jepang?” tanya Bung Soemar.
Semua orang di balai desa ini menganggukkan kepalanya pertanda mereka setuju untuk melucuti senjata tentara Jepang tersebut.
“ Baiklah jika kalian setuju besok pagi kita langsung melakukan pelucutan ini. Siapkan diri kalian masing-masing untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.”, kata Bung Soemar.
“ Baik Bung.”, jawab para pemuda hampir serentak.
“ Esok pagi sebelum melakukan pelucutan tersebut, kita kumpul lagi disini untuk menyusun strategi. Dan sisanya itu semua tergantung kalian. Kekuatan kita bukan karena senjata yang kita miliki namun seberapa besar persatuan kita dan seberapa cinta kalian pada negeri dan kota ini. Untuk itu, saya harap kalian bisa bekerja sama saling bahu-membahu dalam melaksanakan operasi besok. Apakah kalian sanggup?”, tanya  Bung Tomo.
“Insya Allah sanggup Bung.”, jawabku dan pemuda yang lain.
“Bagus. Sekarang kalian boleh kembali beraktivitas dan tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun.”
“Siap Bung.”, timpal kami.
Aku dan pemuda yang lain pun segera membubarkan diri menuju tempat tujuan masing-masing. Ada yang kembali ke rumah, sekolah atau pun bekerja sepertiku. Dengan semangat aku menuju stasiun radio Surabaya untuk kembali mencari penghasilan. Walaupun gaji yang aku peroleh pas-pasan tapi penghasilan tersebut sudah terbilang cukup bagiku. Menjadi penyiar radio tak semudah yang orang-orang pikirkan, tak jarang kami di perlakukan buruk oleh suruhan orang-orang yang kami kritik saat menyampaikan sebuah berita, terutama berita yang berkaitan dengan kasus-kasus politik. Pernah ada salah seorang penyiar yang sampai di masukkan jeruji besi hanya karena mengkritik salah seorang koruptor dari kalangan pejabat pemerintahan. Selain itu, beberapa penyiar juga pernah dipecat karena mereka salah ngomong, untungnya mereka dapat kembali mendapatkan pekerjaan mereka dengan bantuan Bung Tomo. Menurut Bung Tomo, para penyiar tersebut tidak bersalah justru yang menghukum mereka itulah yang bersalah.
Sekitar dua belas menitan bersepeda, akhirnya aku sampai di tempat kerjaku. Sebelum melakukan siaran, aku membuat secangkir kapal api terlebih dahulu. Rasanya belum lengkap jika tidak meminum secangkir kopi sebelum siaran.
Aaaaahhhhh...segarnya. Aroma yang khas membuatku suka meminum kopi ini. Tak bosan rasanya walaupun setiap hari aku meminumnya. Setelah meminum kopi aku melakukan siaran. Alhamdulillah, siaran hari ini berjalan lancar tiada suatu kendala apapun. Setelah melakukan siaran, biasanya aku hanya membaca surat kabar atau pun berbincang-bincang dengan partner kerjaku. Senang saja rasanya berbagi keluh kesah dengan mereka. Kadang kami juga membicarakan hal yang tak serius untuk menenangkan pikiran kami.
Setelah adzan asar aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Di tengah perjalanan aku mampir disebuah masjid untuk melaksanakan sholat asar dan memanjatkan doa kepada yang kuasa agar diberi kelancaran saat melakukan pelucutan senjata Jepang besok. Tak lupa aku berdoa agar tidak ada korban berjatuhan setelah operasi berlangsung. Selesai sholat aku kembali melanjutkan perjalanan ke rumah. Sampai rumah aku menemui ibuku dan memohon doa restu agar diberi keselamatan dalam melucuti senjata Jepang besok.
“ Assalammualaikum...” kataku sambil mengetuk pintu.
“Walaikummussalam...Sudah pulang Nak? Tidak ada masalah kan hari ini?”, tanya ibu sambil mengulurkan tangan kanannya untuk menyalamiku.
“Tidak ibu, hanya saja..ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada ibu. Tapi, ibu harus berjanji tak akan menyampaikan hal ini kepada siapapun.” kataku dengan raut muka yang meyakinkan.
“ Iya Nak, ibu janji tidak akan mengatakan hal tersebut kepada siapapun.” , jawab ibu sambil tersenyum.
“ Baiklah. Begini bu, sebenarnya aku dan pemuda yang lain telah berencana untuk melucuti senjata para tawanan Jepang esok hari. Untuk itu, aku ingin ibu mendoakanku agar kami diberi kelancaran dalam melakukan aksi tersebut.”, kataku penuh harap kepada ibu.
“Tapi Nak...apakah kamu tidak ingat kenapa ayahmu pergi terlalu cepat? Melucuti senjata Jepang bukannlah hal yang mudah, pelucutan tersebut sangat berbahaya. Bukan hanya berbahaya untukmu tetapi juga berbahaya untuk yang lain. Ibu tidak sanggup jika harus kehilanganmu, Nak.’ , kata ibu dengan nada sedikit sendu.
“ Aku paham bu...aku dan pemuda yang lain telah memikirkan matang-matang hal tersebut. Lagi pula pemimpin aksi tersebut adalah Bung Tomo dan Bung Soemar. Ibu tahu kan, mereka berdua adalah orang-orang yang bisa dipercaya. Aku mohon ibu...restui dan doakan kami agar apa yang kita lakukan besok diberi kelancaran oleh Allah.” , kataku pada ibu dengan nada sendu pula.
“ Baiklah Nak jika itu maumu. Tapi, kamu harus berjanji dengan ibu, kamu tidak akan meninggalkan ibu sendirian, kamu harus disamping ibu hingga ajal menjemput ibu.”, kata ibu dengan ekspresi wajah yang membuatku ingin meneteskan air mata.
“ Iya ibu, aku janji. Terima kasih ibu. Tanpa doa dan restu ibu aku tak bisa berbuat apa-apa.” , kataku sambil mencium tangan ibu.
Itulah perbincanganku dengan ibu tatkala aku meminta doa restu pada ibuku. Hingga malam tiba aku sengaja tidur cepat agar aku bisa mencharger tubuhku sehingga mempunyai daya yang kuat untuk melakukan pelucutan besok. Ku matikan lampu kamarku dan kupejamkan kedua mataku dan tibalah aku di alam mimpi indahku.
Pukul empat pagi lewat lima belas menit aku terbangun. Sepertinya tidurku semalam nyenyak sekali hingga aku tak mendengar suara adzan berkumandang. Aku segera melaksanakan sholat fardhu dan mempersiapkan keperluan yang dibutuhkan untuk melucuti senjata tentara nippon nanti.
Matahari mulai merangkak naik menyinari pagi yang sejuk ini. Dengan memakai seragam tentara milik ayah dulu, aku berangkat menuju balai desa. Disana sudah banyak pemuda yang telah datang untuk melucuti senjata tentara Jepang. Beberapa saat kemudianBung Tomo dan Bung Soemar datang.
“ Assalammualaikum.”, kata Bung Tomo dan Bung Soemar secara bersamaan sambil mengetuk pintu.
“ Walaikummussalam.”, jawab kami dengan semangat.
“ Langsung saja, satukan semangat persatuan dan kesatuan kita dalam melakukan aksi ini. Lakukan apa yang telah kita rencanakan kemarin. Ingat selalu semboyan kita Merdeka atau mati. Kemerdekaan bangsa lebih penting daripada apa pun. Jadi, relakan diri kalian untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Apakah kalian sanggup?", tanya Bung Tomo.
“Sanggup Bung!”, jawab kami hampir serentak.
Setelah itu aku, Bung Tomo, Bung Soemar dan pemuda yang lain segera meninggalkan balai desa untuk menuju lokasi pelucutan senjata tentara nippon itu. Tepatnya di sebuah tawanan yang sengaja dibuat untuk mereka. Setibanya di lokasi, aku dan pemuda yang lain segera melancarkan aksi untuk mengambil alih senjata yang dimiliki oleh para tawanan Jepang tersebut. Benar dugaan kita kemarin, mereka benar-benar memberontak dan marah dengan apa yang kita lakukan. Apa boleh buat? Kita harus menyelesaikan misi kita untuk  mendapatkan senjata yang mereka miliki. Berarti kita harus melanjutkan aksi ini, walau pun aksi ini memicu pertempuran yang lain di berbagai daerah di kota ini.
“Merdeka....” , teriak seorang kakek tua renta yang tak ku kenal. Satu kata itu cukup membuatku lebih semangat untuk menyelesaikan aksi ini. Terlihat orang-orang sibuk dengan apa yanga ada di hadapan mereka. “Derrrrr...dddeeeeerrrr....deerrrrr” Suara tembak menembak terdengar begitu keras di telingaku. Cukup sulit diungkapkan dengan kata-kata bagaimana situasi saat itu.  Banyak korban berjatuhan tergeletak di berbagai tempat. Sedih rasanya melihat makhluk tak berdosa juga menjadi korban peristiwa ini. Namun, itu memang sudah menjadi resiko yang harus kita tanggung. Ada nyawa ada kehormatan. Itulah kalimat yang paling cocok untuk saat ini. Untungnya, hampir semua senjata yang dimiliki para tentara Jepang berhasil kita ambil alih. Setidaknya tujuan kita dapat tercapai walau pun banyak rakyat kota ini yang menjadi korban.
Ditengah gerakan melucuti senjata para tentara Jepang, tentara Inggris mendarat di kota ini. Hanya hitungan beberapa menit, berita mendaratnya tentara Inggris tersebut tersiar di seluruh pelosok kota ini.
“Inggris datang...Inggris datang....”, teriak salah seorang pemuda dengan raut wajah penuh kepanikan. Mendengar hal tersebut aku segera menemui Bung Tomo untuk melaporkan hal tersebut.
“Bung Tomo...gawat bung. Tentara Inggris telah mendarat di kota ini Bung.”, kataku.
“Benarkah? Baiklah kalau begitu besok pagi  kita berkumpul lagi di balai desa untuk membahas hal ini. Sekarang kembalilah ke rumah dan temui ibumu. Beliau pasti sangat mengkhawatirkanmu.”
“ Baik Bung!”, jawabku singkat, padat, jelas.
Sesampainya di rumah aku segera menmui ibu dan langsung merebahkan tubuhku di kasur kesayanganku. Penat sekali rasanya hari ini. Kepalaku juga mendadak pusing. Dengan perlahan aku pun memejamkan mataku lalu tertidur pulas.
Tak terasa, sang surya telah menyapaku. Aku segera sholat lalu mandi. Pagi ini aku akan menuju balai desa untuk membahas hal yang akan dilakukan untuk melawan inggris. Berbagai media cetak telah memuat berita kedatangan para tentara Inggris tersebut. Ternyata kedatangan mereka kesini adalah untuk memulangkan dan membebaskan para tentara Jepang. Yang tak kalah pentingnya mereka ingin mengembalikanIndonesia kepada pemerintahan Belanda sebagai jajahannya.
“ Sekutu itulah sebutan para tentara Jepang itu.”, kata Bung Soemar dengan suara tegasnya.
“ Kalian tahu mengapa mereka datang kemari? ”, tanya Bung Soemar.
“ Tidak Bung” , jawabku dengan suara lirih.
“ Banyak tersiar kabar jika kedatangan mereka kemari adalah untuk memulangkan para tawanan Jepang dan mereka ingin menguasai kembali tanah ini. Oleh karena itu, kita harus menyusun strategi yang tepat untuk menghadapi mereka.”
Berbagai media cetak telah memuat berita kedatangan tentara Inggris yang ternyata kedatangan mereka juga diikuti oleh Netherlands Indies Civil Administration, NICA sebutannya. Mereka adalah tokoh-tokoh penting Belanda yang sepertinya akan  menguasai kota ini. Keikutsertaan tentara Belanda tersebut yang banyak menimbulkan kemarahan kami. Untuk apa mereka kembali lagi? Belum puas kah tiga setengah abad menjajah negeri ini? Masih kurang kah uang untuk membangun negara mereka? Belum puaskah tangan-tangan mereka untuk membunuh penduduk pribumi ini?
“ Untuk apa mereka kembali lagi, Tuhan?”, tanyaku dalam hati.
“Apakah belum cukup penderitaan bangsa Indonesia setelah kedatangan mereka? Sungguh kejamnya orang-orang berkulit putih itu.”, batinku.
            Setelah melakukan rapat untuk membahas strategi untuk menghadapi tentara inggris, aku segera meninggalkan balai desa untuk menuju tempat kerjaku. Bendera Merah-Putih melambai-lambai tertiup angin. Hal itu mengingatkanku pada insiden perobekan bendera di Hotel Yamato Memang setelah dikeluarkannya maklumat pemerintah bahwa mulai 1 September lalu, Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh Indonesia, gerakan pengibaran ini meluas ke segenap penjuru kota. Di berbagai tempat strategis susul-menyusul mengibarkan Merah Putih. Di teras Gedung Kantor Karesidenan, sekarang kantor gubernur di Jalan Pahlawan, di atas Gedung Internatio disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya  yang membawa bendera Merah Putih datang ke Lapangan Tambaksari untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda.
            Saat itu, Lapangan Tambaksari penuh dengan lambaian sang Merah Putih, disertai pekik ‘Merdeka’ mendengung di angkasa. Mereka tetap melakukan rapat tersebut walaupun sudah dilarang oleh pihak Kempeitai.
“ Merdeka..Merdeka...Merdeka..”semua massa dalam rapat tersebut mengeluarkan semangatnya. Mereka ingin mempertahankan kemerdekaan bangsa ini yang diperolehnya dengan penuh perjuangan dan penuh tetesan darah serta air mata.
            Puncak pengibaran bendera tersebut terjadi pada insiden perobekan bendera di salah satu hotel di Surabaya. Tepatnya di Hotel Oranje atau lebih dikenal dengan Hotel Yamato. Masih kuingat kejadian perobekan bendera tersebut. Saat itu, ketika aku, Agus, dan Wirya sedang melintasi hotel tersebut. Tak sengaja aku dan kedua temanku melihat bendera Belanda Merah Putih Biru berkibar di tiang teratas hotel tersebut. Kita bertiga sangat terkejut.Berani sekali mereka mengibarkan bendera tiga warna itu disaat kita sedang gencar-gencarnya mengibarkan bendera Merah Putih.Tanpa berpikir panjang kita langsung memasuki hotel Yamato dan segera naik ke rooftop hotel tersebut.
“ Gubraaaakkkk.....”, suara pintu terbanting membentur tembok. Dengan penuh emosi Agus membuka pintu hotel tersebut.
Semua orang yang berada di dalam hotel tersebut menampakkan wajah kaget dan bingung, hanya dalam hitungan detik mereka langsung memalingkan muka ke arahku, Agus dan Wiryo.
“What happened?”, tanya salah seorang penginap hotel.
“I dont know”, jawab lainnya,
“ Siapa yang berani mengibarkan bendera tri warna itu?”, tanya Wiryo dengan nada menggertak.
“ Bendera apa?”, tanya salah seorang resepsionis hotel.
“ Ahhh...lama. Kita langsung naik saja.”, kataku dengan nada penuh emosi juga.
            Kita pun menyusuri setiap tangga di hotel itu. Rasa lelah tak mengurangi semangat kita untuk menurunkan bendera tri warna di atas sana. Bagaimanapun juga bendera tiga warna itu tidak pantas berkibar di negeri ini. Jika hal tersebut tak dihiraukan, mungkin Belanda bisa melakukan hal yang lebih tak pantas. Misalnya menegakkan ideologinya atau mengganti undang-undang negara ini. Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Republik Indonesia harus bertindak tegas terhadap segala sesuatu yang mengancam negeri ini.
            “ Apa-apaan ini? “, kataku sesaat setelah tiba di rooftop Hotel Oranje.
            “ Siapa kalian? “, kata seorang pria berambut pirang dihadapanku.
            “Saya tanya kalian, apa maksud kalian mengibarkan bendera Merah Putih Biru itu?”, tanya Agus.
            “Suka-suka kita dong. Apa masalah kalian dengan bendera itu?”
“Apakah kalian tidak sadar dimana kalian berdiri sekarang? Memangnya ini Netherland?”
“Cepat tururnkan bendera kalian atau kita yang akan menurunkan bendera kalian?”
“Ash....Beriksik sekali kalian itu. Pergi sana!”
“Berani sekali kalian mengusir kami.”
Tak disangka insiden pengibaran bendera tersebut telah diketahui massa. Ternyata mereka telah memenuhi halaman hotel ini. Mulai dari pelajar berumur belasan tahun hingga pemuda dewasa semua siap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel dan halaman gedung  yang berdampingan penuh massa dengan luapan penuh amarah. “Turunkan..turunkan...turunkan...” semua rakyat Surabaya menginginkan bendera tiga warna itu untuk diturunkan. Agak kebelakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang yang tidak ditawan berjaga-jaga. Situasi saat itu menjadi sangat eksplosif.
Tak lama kemudian, Residen Sudirman datang. Kedatanga pejuang dan diplomat ulung yang waktu itu menjabat sebagai wakil residen atau Fuku Syuco Gunseikan yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen daerah Surabaya Pemerintah Republik Indonesia, menyibak kerumunan massa lalu masuk hotel.
“Tenang semuanya. Tenang..tenang..”, katanya.
“Turunkan bendera tiga warna itu pak! Turunkan sekarang juga!!”, perintah salah seorang pemuda di tenagh kerumunan massa.
“Tenang, saya akan mencoba berbicara dengan mereka dan memintanya untuk menurunkan bendera tiga wana itu.”
Pak Sudirman memasuki hotel dan berunding dengan Mister Ploegman beserta kawan-kawannya. Dalam perundingan itu, Sudirman meminta agar bendera tri warna segera diturunkan.
“Tindakan kalian benar-benar telah melampaui batas. Kalian sama saja melecahkan negara kami yang saat ini sedang gencar-gencarnya mengibarkan bendera Merah Putih di seluruh pelosok negeri. Kami mohon kalain menurunkan bendera tri warna di atas sana.”, kata Pak Sudirman.
Ploegman menolak, bahkan dengan kesar mengancam, “Tentara sekutu telah menang perang, dan karena Belanda adalah anggota sekutu, maka sekarang Pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali Pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui.”
Sambil mengangkat revolver, Ploegman memaksa Pak Sudirman untuk segera pergi dan membiarkan bendera Belanda tetap berkibar.
“Pergi sana. Saya tidak sudi untuk menurunkan benderaku itu.”, katanya dengan mata melotot.
Melihat gelagat tidak menguntungkan itu, Sidik dan Haryono yang mendampingi Pak Sudirman mengambil langkah taktis. Sidik menendang revolver yang berada di tangan Ploegman. Revolver itu terpental dan meletus tanpa mengenai siapapun. Haryono segera membawa Pak Sudirman pergi, sementara Sidik terus bergulat dengan Ploegman.
“Pak Man, lebih baik Anda mengamankan diri. Mari kita keluar dari hotel ini. Biarkan Sidik menyelesaikan tugasnya.”, kata Haryono pada Pak Sudirman.
“Baiklah, maafkan kita Sidik. Namun kita harus tetap keluar. Jaga dirimu baik-baik. Jangan pernah meninggalkan kita sendirian. Kita akan selalu mendoakanmu dan menunggumu di luar sana”; kata Pak Sudirman pada Sidik yang sedang bergulat dengan Ploegman.
Sidik terus bergulat dengan Mister Ploegman dan ia berhasil mencekik leher Mister Ploegman. Mister Ploegman pun tergeletak tak bernyawa di lantai hotel Yamato. Beberapa tentara Belanda tiba-tiba menyerobot memasuki hotel. Suara letusan pistol memang terdengar begitu santer yang membuat mereka tiba-tiba memasuki hotel tersebut.
Posisi Sidik saat itu memamng kurang menguntungkan karena tidak ada pemuda atau pun pria dewasa yang membantunya melawan tentara Belanda. Hingga Tentara Belanda menghunuskan pedang panjang lalu disabetkan ke arah Sidik. Sidik pun tersungkur dengan darah mengalir dari perutnya.
Di uar hotel, para pemuda yang mengetahui kejadian itu langsung merangsek masuk ke hotel dan terjadilah perkelahian diruang muka hotel. Sebagian yang lain, berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Bagai pahlawan tak diundang Haryono yang semula bersama Pak Sudirman dan Kusno Wibowomemanjat tiang bendera itu dan berhasil menurunkan bedera tiga warna tersebut. Lalu mereka merobek bagian warna biru dari  bendera tri warna itu menjadi bendera Merah Putih, bendera kebangsaan Indonesia dan mengereknya ke puncak tiang lagi. Sorak sorai rakyat Surabaya mengudara. “Merdeka...merdeka ..”, suara massa yang meluaokan kegembiraannya. Aku sangat takjub dengan apa yang telah dilakukan Wiryo dan Haryono. Hampir semua raktyat Surabaya  bertepuk tangan sebagai bentuk kebanggan terhadap mereka,yang telah merobek bendera Merah Putih Biru milik Belanda menjadi bendera Merah Putih. Begitulah akhir dari insiden bendera di Hotel Oranje atau Hotel Yamato yang sangat membekas di pikiranku.
Beberapa saat kemudian, aku tiba di tempat kerjaku. Hari ini akiu di beritahu Sutrisno, rekan kerjaku jika aku akan menyiarkana berita tentang sekutu. Untuk itu, aku harus memikirkan semua yang aku ucapkan, jangan sampai keliru karena mereka sangat sensitif. Seperti biasa, sebelum menyiarkan berita aku harus menyruput kopi hitam buatan Pak Salam, salah seorang karyawan di kantor ini.
“Mantap betul pak kopinya.”, kataku pada Pak Salam sesaat setelah meminum kopi hitam buatannya.
“Tentu dong..Siapa dulu yang membuatnya.”, balasnya dengan penuh rasa bangga.
“Iya iya..ya sudah pak saya harus siaran. Terima kasih kopinya.”
“Sama-sama. Selamat bekerja Tuan.”
                        Aku pun mulai bekerja. “ Selamat Siang semua...Jumpa lagi dengan kita di Radio Soeara Surabaya....”
Beberapa menit kemudian aku selesai melakukan siaran hari ini. “Ya. Itu tadi berita utama hari ini. Selamat beraktifitas dan sampai jumpa lagi.” Setelah siaran aku langsung kembali kerumah karena ada sesuatu yang harus aku lakukan.
            “ Tunggu, Nak.”, seseorang memannggilku dari belakang. Aku langsung menolehkan kepalaku dan ternyata beliau adalah Bung Tomo.
            “Siang, Bung. Ada yang bisa saya bantu?”, tanyaku.
            “Tidak nak, saya hanya ingin memberitahumu jika saat ini sekutu dan rakyat sudah mulai melakukan pertempuran. Walaupun pertempuran itu masih berskala kecil. Takutnya  semakin lama pertempuran itu semakin besar dan banyak menimbulkan korban jiwa.  Lebih baik kita bergegas menuju lojasi untuk meredam pertempuran itu.”
            “Baiklah  Bung. Mari kita segera kesana sebelum semua terlambat.”
Aku dan Bung Tomo segera menuju lokasi pertempuran antara sekutu dan rakyat kota ini. Dengan sekuat tenaga, kita mengayuh sepeda tua masing-masing menuju lokasi pertempuran. Di sepanjang jalan, banyak gerombolan yang sepertinya juga akan menuju lokasi pertempuran. Dengan membawa tombak mereka berjalan dengan penuh semangat sambil memekikkan kata merdeka.
            “ Merdeka! Merdeka! Merdeka!”
            Setibanya di lokasi pertempuran aku dan Bung Tomo segera bergabung dengan massa yang sedang melawan tentara sekutu.
            “Stoppppp!!!!!!...”, kata Bung Tomo berusaha untuk menghentikan pertempuran.
Namun teriakan Bung Tomo tidak diindahkan oleh mereka. Rakyat Surabaya sudah terlanjur emosi dengan tentara sekutu. Begitu juga oara tentara sekutu, mereka juga tidak menghentikan perlawanannya.
            Serangan-serangan kecil itu, kemudian berubah menjadi serangan umum yang hampir membinasakan seluruh tentara Inggris.
Akhirnya Jenderal D.C Hawthron meminta bantuan Presiden Soekarno untuk meredakan situasi yang terjadi.
            “Hello , Sir. How are you today?”, sapanya dari telepon.
            “I am Fine. Thank you. How about you?”
            “I am not fine, Sir, can you help me?”
            “Ehm...What happened?”
            “Today, The people of Surabaya has done assault. Pertempuran tersebut hampir membinasakan seluruh tentara kami. So, kami mohon Presiden dapat meredakan perlawanan ini.”
            “Baiklah, besok pagi saya akan ke Surabaya dan mencoba menyelesaikan maslaah ini.”
            “Okay, Presiden. Thank you.”
            Itulah perbincangan antara Presiden Soekarno dan Jenderal D.C Hawthron melaui telepon. Pesiden Soekarno bersedia untuk meredakan situasi di kota ini besok pagi.
            Paginya, sekitar pukul delapan Presiden Soekarno beserta rombongan berhasil mendarat di kota ini. Mereka segera menemui Jenderal D.C Hawthron dan melakukan perundingan dengan mereka. Perundingan tersebut tak lain dan tak bukan adalah untuk mendamaikan Indonesia dan sekutu. Peruundingan untuk damai ini dengan mudah disetujui oleh kedua belah pihak. Sehingga pertempuran-pertempuran antara rakyat Surabaya dan sekutu berangsur mereda. Untuk itu, Bunng Karno beserta rombongan kembali ke Jakarta. Sebelum kembali ke Jakarta beliau berpesan kepada Bung Tomo untuk tetap berhati-hati dengan sekutu.
            “Nak, berhati-hati lah dengan mereka. Mereka itu seperti air tenang menghanyutkan. Kemerdekaan bangsa ini ytergantung kalian.”, kata pak presiden kepada Bung Tomo.
Setelah itu, Presiden Soekarno pamit pergi dan meninggalkan kota Surabaya. Walau situasi sudah mereda, keributan antara sekutu dan rakyat Surabaya tetap terjadi. Bentrokan-bentrokan bersenjata antara sekutu dan rakyat Surabaya memuncak ketika Brigadir Jenderal A.W.S Mallaby tewas terbunuh.
            “Duuuuueerrrrr.....!!!!!”, suara ledakan terdengar begitu keras. Aku dan pemuda yang lain berusaha mencari tahu apa yang baru saja terjadi. Setelah ditelusuri, ternyata terjadi kesalah pahaman antara rakyat Surabaya dengan tentara sekutu. Ketika akan melewati Jembatan Merah, mobil Buick yang ditumpangi Jenderal A.W.S Mallaby  dicegat oleh sekelompok milisi Indonesia. Maka terjadilah tembak-menembak yang akhirnya membuat mobil jenderal inggris itu meledak dan warnanya berubah menjadi hitam. Jenderal Mallaby pun tewas terbakar di dalam mobil. Namun, siapa yang telah menmbak mobil jenderal inggris tersebut tidak diketahui siapa pelakunya karena mereka berhasil melarikan diri. Kebetulan, tidak ada saksi mata dalam insiden tersebut.
Peristiwa tersebut sontak saja membuat tentara Inggris geram. Mereka tidak terima dengan apa yang terjadi. Keesokan harinya, Mayor Jenderal Mansergh, pengganti Jenderal Mallaby mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi rakyat Surabaya. Dalam ultimatum itu, disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus harus melapor dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam enam pagi tanggal 10 November tahun 45.
“Semua pimpinan dan orang Indonesia yang mempunyai senjata tanpa terkecuali harus lapor dan menyerahkan diri dengan mengangkat kedua tangan di atas kepala sampai tanggal 10 November 1945.”, kataku saat membacakan pamflet yang berisi ultimatum dari Jenderal Mansergh kepada teman-teman di hadapanku. Kebetulan saat itu, aku dan teman-teman sedang makan di salah satu warteg dekat kamu bekerja.
 “Apa-apaan itu?”, tanya Dahlan dengan suara hampir tersedak.
“Aku tidak mau lapor dengan mereka. Mereka itu sama saja menginjak-injak harga diri kita.”, lanjut Wahyudi.
“Mereka semua memang berengsek. Biarkan saja mereka itu. Tidak usah di gagas. Muak sekali aku dengan mereka.”, kata Bahrun dengan raut muka emosi.
Aku dan teman-teman tentu saja menolak ultimatum tersebut. Selain ultimatum tersebut sebagai penghinaan bagi bangsa Indonesia, saat ini Republik Indonesia telah berdiri sebagai negara yang berdaulat. Tentara Keamanan Rakyat atau TKR sebagai alat negara juga telah dibentuk. Selain itu, banyak sekali organisasi perjuangan yang telah dibentuk masyarakat, termasuk dikalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Badan-badan perjuangan itu telah muncul membela Republik Indonesia yang masih muda untuk melucuti pasukan Jepang dan menentang masuknya kolonialisme Belanda di Indonesia.
Pada tanggal 10 November 1945, benar saja tentara Inggris mulai melakukan serangan besar-besaran yang sangat dahsyat. Mereka mngerahkan sekitar tiga divisi pasukan infanteri beserta tank dan senjata berat lainnya, lima puluh pesawat tempur dan sejumlah kaal perang yang berada disekitar perairan Surabaya.
“Derrr...derrrrr...derrrrr....derrrr...derrrrr..”, suara tembakan mengalun diudara.
Hampir seluruh bagian kota Surabaya ditembaki dan dihujani bom secara membabi buta oleh mocong-moncong meriam pasukan Inggris.
            “Bbbbooommmmmm!!!!”, suara bom meledak  tak jauh dari posisiku berdiri.
Aku segera mengevakuasi ibuku menuju tempat yang lebih aman dan belum banyak diketahui oleh pasukan Inggris. Disana sudah banyak wanita dan anak-anak yang mengamankan diri. Aku dan pemuda yang lain memang sudah menyiapkan tempat ini sebagai tempat untuk melidungi para wanita dan anak-anak. Kemudian dengan tergesa-gesa aku berpamitan dengan ibu untuk ikut melawan sekutu bersama pemuda-pemuda yang lain untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Ibu pun mengangguk mengiyakan dengan ekspresi yang campur aduk. Takut ditambah sedih tak mau melepaskanku, namun ia tetap harus merelakanku untuk melindungi kehormatan bangsa ini.
            Bung Tomo mengatakan rakyat melupakan  segala -galanya, kecuali   Republik Indonesia harus tetap merdeka! Tidak penting lagi arti  golongan, tingkatan, perbedaan agama, dan paham. Negara Proklamasi 17 Agustus 1945 sedang terancam  bahaya. Kemerdekaan Tanah Air  sedang terganggu.Satu Indonesia yang terancam, satu bangsa Indonesia  yang akan membelanya. Satu pula tekad  bangsa Indonesia. Sekali merdeka tetap merdeka!
Masih kata Bung Tomo, bukan satu dua orang yang pada hari ini  menunjukkan  kepahlawanannya! Individual tidak laku pada hari ini!  Pemerintah, tentara, rakyat, segenap  golongan bangsa  Indonesia lah yang pada hari ini membela Tanah Airnya!
Jika  ada yang dianggap  pahlawan pada hari ini rakyat itulah  yang harus dinamakan pahlawan. Pernyataan Bung Tomo tersebut membuatku semakin semangat untuk melawan tentara sekutu. Walaupun aku tidak mempunyai senjata semodern mereka, setidaknya bambu runcing ditanganku ini bisa melindungiku dari kejahatan mereka. Dihari pertama, puluhan penduduk kota ini menunggal dunia dan sebagian besar mengalami luka-luka. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi.
            Ketika matahari terbenam, aku segera menemui ibuku dan membawakannya singkong rebus yang telah aku buat di rumah.
“Tunggu sebentar ibu, aku tahu ibu lapar dan sangaat mengkhawatirkanku.”, kataku sambil membungkus singkong rebus dengan daun pisang.
Kemudian aku berlari menuju tempat persembunyian ibu di salah satu gudang tak terpakai di ujung desa ini. Tempat itu memang jarang sekali dilewati seseorang karena tempatnya memang jauh dari jalan dan tak ada akses untuk memasukinya. Hatiku menangis melihat semua orang yang berada di gudang itu. Mereka semua kelaparan dan kehausan. Untungnya, sifat kekeluargaaan dan jiwa sosial penduduk di kota ini masih sanngat besar. Aku dan lainnya saling berbagi makanan dan minuman yang kami bawa.
            Allahhuakbar...Allahhuakbar....Suara adzan magrib berkumandang. Aku dan semua orang di gudang ini melaksanakan sholat magrib berjamaah dan tak lupa berdoa untuk meminta keselamatan dalam melawan tentara Inggris.
“Ya Allah..ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa para pemimpin kami, serta dosa semua kaum muslimin dan muslimat. Ya Allah yang maha memberi, berilah hamba kekuatan dalam melawan para penjajah yang ingin merebut kemerdekaan bangsa ini. Berilah kami dan keluarga kami keselamatan dalam melawan mereka ya Allah. Aamiin yaa rabal alamin.”, pintaku pada Tuhan setelah selesai melaksanakan sholat magrib.
            Setelah sholat aku kembali berpamitan kepada ibu untuk menemui Bung Tomo. Aku sudah berjanji akan menemui beliau ditempat yang sudah kami sepakati.
            “Bu..aku akan menemui Bung Tomo di suatu tempat. Mohon doa kan aku ibu. Jangan khawatir dengan ku ibu. Aku pasti akan kembali lagi.”
Ibu hanya menganggukkan kepalanya  dan tidak mengatakan sepatah kata pun kepadaku. Aku tahu ibu pasti sangat takut jika aku meninggalkannnya. Tapi, memang ini yang harus aku lakukan.
            “Maafkan aku, Ibu.”, kataku dalam hati.
Aku segera menemui Bung Tomo dan berbincang-bincang dengannnya bersama pemuda yang lain.
            “Assalammualakum.”, sapaku kepada Bung Tomo.
            “Walaikummussalam”, jawabnya.
            “Yang lain mana Bung?”
            “Mereka baru melaksanakan sholat di dalam.”
            “Ooh...Bagaimana Bung, senjata yang kita miliki tidak sebanding dengan yang mereka punya?”, tanyaku langsung ceplas ceplos
            “Senjata bukan alat utama untuk melindungi diri, Nak. Jadi, jangan risau dengan hal itu. Sekarangbyang harus kita pikirkan adalah bagaimana kita dapat melindungi diri dengan senjata yang kita miliki.”
            “Iya Bung, saya paham. Tapi...”
            “Tapi apa Nak?”
            “Ehm....tidak Bung. Tidak jadi.”,
Aku tidak jadi mengungkapkan perasaanku kepada Bung Tomo jika sebenarnya aku dengan perlawanan ini karena kita dan Inggris memang sangat tidak seimbang. Dan aku memutuskan untuk tidak mengatakan hal tersebut kepada Bung Tomo.
Beberapa saat kemudian, pemuda yang lain keluar dari tempat ini dan kita langsung bermusyawarah untuk menyusun strategi dalam melawan tentara Inggris besok. Dalam strategi ini, kita akan dipencar ke daerah-daerah yang berbeda. Hal itu dimaksudkan agar di setiap tempat ada yang memimpin perlawanan rakyat sehingga dapat mengurangi jumlah korban jiwa di setiap daerah.
“Untuk perlawanan besok, disetiap daerah ada yang bertindak sebagai pemimpin. Jadi, saya harap kalian-kalian lah yanga akan memimpin desa kalian masing-masing dalam memimpin sekutu.”, kata Bung Tomo.
“Saya setuju, Bung. Dengan hal itu, kita dapat meminimalisir korban jiwa akibat pertempuran ini.”, kata Badrun.
Semua orang setuju dengan usulan Bung Tomo tersebut. Lalu kami mencari strategi yang lain sebagai strategi tambahan untuk melawan tentara sekutu. Hingga larut malam, kami masih berbincang-bincang dengan Bung Tomo. Tepat pukul satu kurang lima belas menit kita memutuskan untuk istirahat sejenak.
Keesokan harinya, ketika adzan subuh berkumandang aku pamitan dengan Bung Tomo untuk menemui ibuku. Tentu saja Bung Tomo memberiku ijin. Sesampainya di tempat ibu, aku mengatakan semuanya kepada ibu apa yang akan aku lakukan. Disitu ibu menangis dan memelukku. Kata ibu, beliau rindu dengan ayahku.
“Kenapa ibu? Kenapa ibu menangis?”
“Tidak apa-apa, Nak. Ibu hanya teringat ayahmu.”
“Baiklah ibu, lampiaskan rindu ibu kepadaku. Tapi ibu, tidak boleh seperti ini terus. Ibu harus kuat. Jika ibu sedih, ayah juga ikut sedih. Sekarang kita sholat subuh dan doakan ayah agar ayah selalu bahagia.”
Aku dan ibu sholat subuh berjamaah. Selesai sholat, aku langsung menempatkan diri dimana aku harus melawan tentara Jepang. Sudah banyak penduduk yang juga bersiap diri merelakan jiwa dan raganya demi mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.
            Kali ini, Inggris melakukan penyerangan lebih besar dari kemarin.Untuk itu Bung Tomo berinisiatif mengadakan siaran radio, yang isinya agitasi mengingatkan rakyat akan bahaya yang mengancam kemerdekaan Indonesia. Semula ide tersebut ditentang Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin.  Alasannya, siaran radio yang bersifat agitasi  bisa mengeruhkan suasana di dalam negeri. Dan hal seperti itu tidak dikehendaki oleh tentara Sekutu.Bung Tomo berkeras dengan rencananya tersebut. Buat dia, justru dengan menunjukkan kepada tentara Sekutakan adanya rakyat  yang berjiwa dan berpendirian ekstrem dalam mempertahankan negaranya, tentara Sekutu akan lebih menghargai Republik Indonesia yang bisa diajak berunding. Pemerintah, kata Bung Tomo, bisa menggunakan rakyat yang ekstrem itu sebagai  kekuatan yang berdiri di belakang mereka dalam perundingan.
Menteri Amir Sjarifuddin akhirnya setuju. Namun dia meminta agar tidak menggunakan siaran RRI, sebagai radio resmi pemerintah. Amir mengusulkan agar siaran itu diberi nama Voice of  the  Indonesian Revolt atau Suara Revolusi Indonesia, yang  menyiarkan pidato dalam bahasa Inggris, Perancis, dan bahasa internasional lainnya.Setelah  mendapat lampu hijau dari pemerintah pusat, Bung Tomo  memanfaatkan pemancar  Radio Surabaya untuk dijadikan Radio  Pemberontakan Rakyat Indonesia.  
 Melalui radio  Bung Tomo berpidato yang berbunyi
Bismillahirrohmanirrohim..
Merdeka!!!
Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka
Saudara-saudara.
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.
Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan Presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini. Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara kita semuanya.
Kita bangsa indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris itu,
dan kalau pimpinan tentara inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita.
Ini jawaban rakyat Surabaya.
Ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian.
Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata2 yang telah kita rampas dari tentara jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita:
Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik 
kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itukita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!!
            Begitulah pidato heroik Bung Tomo yang membuatku pantang menyerah dalam menghadapi pertempuran ini. Aku yakin yang lain juga termotivasi atas apa yang disampaikan Bung Tomo.
Pihak Inggris menduga bahwa bahwa perlawanan rakyat Surabaya bisa ditaklukan dalam tempo yang singkat dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap. Namun diluar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama’ seta kyai-kyai pondok Jawa seprti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum untuk ikut melawan sekutu. Saat ini masyarakat memang lebih patuh dan taat kepada para kyai daripada kepada pemerintah. Sehingga perlawanan ini bisa berlangsung lama dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya.
Perlawanan rakyat yang pada awalnya berlangsung spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh ditangan Inggris. Peristiwa berdarah ini telah menggerakkan perlawanan rakyat Surabaya dan seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan Indonesia.

Saat melawan para tentara sekutu, tiba-tiba sebutir peluru menembus dadaku. Aku tetap menahan rasa sakit didadaku itu kemudian aku berlari menuju tempat ibuku berada. Namun di tengah perjalanan kakiku mulai tidak bisa diajak bekerja sama untuk mengantarku menuju ibu hingga akhirnya aku terjatuh dan salah seorang kakek mebantuku untuk menepi ke pinggir jalan.
            “Kek, apakah kakek tahu siapa aku? Jika kakek tahu aku mohon katakan ini kepada ibuku. Maafkan aku ibu, aku tidak bisa menepati janjiku untuk terus bersama ibu. Aku yakin ibu pasti bisa jaga diri tanpa ada aku disamping ibu. Maafkan aku Ibu, sekarang sudah waktunya aku untuk menyusul ayah di atas sana. Selamat tinggal ibu, semoga ibu selalu bahagia.”
Itulah kata terakhirku sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku. Aku sangat bahagia karena aku bisa pergi meninggalkan dunia ini saat aku sedang berjuang untuk menjaga kehormatan bangsa ini dan juga ikut mempertahankan kemerdekaan bangsa ini.
            “Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunayi darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah putih, maka selama itu tidak akan kita menyerah kepada siapa pun juga!”
Puisi itu menjadi kata-kata terindah yang pernah aku dengar dari Bung Tomo. Seorang pemimpin yang rendah hati serta pejuang yang tak mau menonjolkan jasa dan pengabdiannya. Tak akan pernah aku lupakan jasa-jasa beliau untuk membantuku dan juga membantu negeri ini. Terimakasih Bung Tomo.
Terima kasih Ibu.
Terima kasih Surabayaku.
SELESAI




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paraga lan Watak Wonten Ing Cariyos "Damarwulan"

Laporan Penelitian Pertumbuhan Kecambah

Contoh Proposal Pagelaran Tari